Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 8. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2019

Kanker paru-paru

LungCACXR.PNG






Kanker paru-paru merupakan penyakit dengan ciri khas adanya pertumbuhan sel yang tidak terkontrol pada jaringan paru-paru. Bila tidak dirawat, pertumbuhan sel ini dapat menyebar ke luar dari paru-paru melalui suatu proses yang disebut metastasis ke jaringan yang terdekat atau bagian tubuh yang lainnya. Sebagian besar kanker yang mulai di paru-paru, yang dikenal sebagai kanker paru primer, adalah karsinoma yang berasal dari sel epitelium. Jenis kanker paru yang utama adalah SCLC (kanker paru sel kecil), atau disebut juga kanker sel gandum, dan NSCLC (kanker paru non-sel-kecil). Gejala paling umum adalah batuk (termasuk batuk darah), berat badan turun dan sesak napas.
Penyebab paling umum kanker paru adalah paparan dalam jangka waktu yang lama terhadap asap tembakau, yang menyebabkan 80–90% kanker paru.[1] Bukan perokok mencapai angka 10–15% dari kasus kanker paru dan kasus ini biasanya disebabkan oleh kombinasi antara faktor genetik,gas radon,[4] asbestos,[5] dan polusi udara[4]termasuk asap rokok pasif.[6][7] Kanker paru dapat dilihat melalui foto rontgen dada dan tomografi komputer (CT scan). diagnosis dapat dipastikan dengan biopsi[8] yang biasanya dilakukan melalui prosedur bronkoskopi atau dipandu dengan CT. Perawatan dan hasil dalam jangka panjang tergantung pada tipe kanker, stadium (tingkat penyebaran), dan keadaan kesehatan pasien secara keseluruhan, diukur berdasarkan kondisi umum.
Perawatan biasanya meliputi pembedahankemoterapi, dan radioterapi. NSCLC biasanya ditangani melalui pembedahan, sedangkan SCLC umumnya memberikan respons yang lebih baik terhadap kemoterapi dan radioterapi.[9] Secara keseluruhan, 15% dari penduduk di Amerika Serikat terdiagnosis kanker paru mencapai harapan hidup lima tahun setelah diagnosis.[10] Secara global, kanker paru merupakan penyebab utama kematian karena kanker pada laki-laki dan perempuan, dan bertanggung jawab untuk 1,38 juta kematian setiap tahunnya, hingga tahun 2008.[11]


sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Kanker_paru-paru

Asma


Asma



Image result for pengertian asma





Asma adalah jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas. Selain sulit bernapas, penderita asma juga bisa mengalami gejala lain seperti nyeri dada, batuk-batuk, dan mengi. Asma bisa diderita oleh semua golongan usia, baik muda atau tua.
Meskipun penyebab pasti asma belum diketahui secara jelas, namun ada beberapa hal yang kerap memicunya, seperti asap rokok, debu, bulu binatang, aktivitas fisik, udara dingin, infeksi virus, atau bahkan terpapar zat kimia.
Bagi seseorang yang memiliki penyakit asma, saluran pernapasannya lebih sensitif dibandingkan orang lain yang tidak hidup dengan kondisi ini. Ketika paru-paru teriritasi pemicu di atas, maka otot-otot saluran pernapasan penderita asma akan menjadi kaku dan membuat saluran tersebut menyempit. Selain itu, akan terjadi peningkatan produksi dahak yang menjadikan bernapas makin sulit dilakukan.

Penderita asma di Indonesia

Laporan riset kesehatan dasar oleh Kementrian Kesehatan RI tahun 2013 memperkirakan jumlah pasien asma di Indonesia mencapai 4.5 persen dari total jumlah penduduk. Provinsi Sulawesi Tengah menduduki peringkat penderita asma terbanyak sebanyak 7.8 persen dari total penduduk di daerah tersebut.
Menurut data yang dikeluarkan WHO pada bulan Mei tahun 2014, angka kematian akibat penyakit asma di Indonesia mencapai 24.773 orang atau sekitar 1,77 persen dari total jumlah kematian penduduk. Setelah dilakukan penyesuaian umur dari berbagai penduduk, data ini sekaligus menempatkan Indonesia di urutan ke-19 di dunia perihal kematian akibat asma.

Diagnosis asma

Untuk mengetahui apakah seorang pasien menderita penyakit asma, maka dokter perlu melakukan sejumlah tes. Namun sebelum tes dilakukan, dokter biasanya akan mengajukan pertanyaan pada pasien mengenai gejala apa saja yang dirasakan, waktu kemunculan gejala tersebut, dan riwayat kesehatan pasien serta keluarganya.
Jika seluruh keterangan yang diberikan pada pasien mengarah pada penyakit asma, maka selanjutnya dokter bisa melakukan tes untuk memperkuat diagnosis, misalnya:
  • Spirometri
  • Tes Arus Puncak Ekspirasi (APE)
  • Uji Provokasi Bronkus
  • Pengukuran Status Alergi
  • CT Scan
  • Rontgen
Jika seseorang terdiagnosis mengidap asma saat kanak-kanak, gejalanya mungkin bisa menghilang ketika dia remaja dan muncul kembali saat usianya lebih dewasa. Namun gejala asma yang tergolong menengah atau berat di masa kanak-kanak, akan cenderung tetap ada walau bisa juga muncul kembali. Kendati begitu, asma bisa muncul di usia berapa pun dan tidak selalu berawal dari masa kanak-kanak.

Pengobatan asma

Ada dua tujuan dalam pengobatan penyakit asma, yaitu meredakan gejala dan mencegah gejala kambuh. Untuk mendukung tujuan tersebut, diperlukan rencana pengobatan dari dokter yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Rencana pengobatan meliputi cara mengenali dan menangani gejala yang memburuk, serta obat-obatan apa yang harus digunakan.
Penting bagi pasien untuk mengenali hal-hal yang dapat memicu asma mereka agar dapat menghindarinya. Jika gejala asma muncul, obat yang umum direkomendasikan adalah inhaler pereda.
Bilamana terjadi serangan asma dengan gejala yang terus memburuk (secara perlahan-lahan atau cepat) meskipun sudah ditangani dengan inhaler atau obat-obatan lainnya, maka penderita harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Meski jarang terjadi, serangan asma bisa saja membahayakan nyawa. Bagi penderita asma kronis, peradangan pada saluran napas yang sudah berlangsung lama dan berulang-ulang bisa menyebabkan penyempitan permanen.

Komplikasi asma

Berikut ini adalah dampak akibat penyakit asma yang bisa saja terjadi:
  • Masalah psikologis (cemas, stres, atau depresi).
  • Menurunnya performa di sekolah atau di pekerjaan.
  • Tubuh sering terasa lelah.
  • Gangguan pertumbuhan dan pubertas pada anak-anak.
  • Status asmatikus (kondisi asma parah yang tidak respon dengan terapi normal).
  • Pneumonia.
  • Gagal pernapasan.
  • Kerusakan pada sebagian atau seluruh paru-paru.
  • Kematian.

Mengendalikan penyakit asma

Jika Anda kebetulan mengidap asma atau hidup dengan asma sejak lama, jangan cemas dengan kondisi ini karena asma merupakan penyakit yang masih dapat dikendalikan asalkan Anda:
  • Mengenali dan menghindari pemicu asma.
  • Mengikuti rencana penanganan asma yang dibuat bersama dokter.
  • Mengenali serangan asma dan melakukan langkah pengobatan yang tepat.
  • Menggunakan obat-obatan asma yang disarankan oleh dokter secara teratur.
  • Memonitor kondisi saluran napas Anda.

sumber:https://www.alodokter.com/asma

Tuberkulosis

Tuberkulosis


Image result for pengertian tuberkulosis



Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC, adalah penyakit menular paru-paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosisPenyakit ini ditularkan dari penderita TB aktif yang batuk dan mengeluarkan titik-titik kecil air liur dan terinhalasi oleh orang sehat yang tidak memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini.
TB termasuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Data WHO menunjukkan bahwa pada tahun 2015, Indonesia termasuk dalam 6 besar negara dengan kasus baru TB terbanyak.

Gejala dan Jenis Tuberkulosis
TB paling sering menyerang paru-paru dengan gejala klasik berupa batuk, berat badan turun, tidak nafsu makan, demam, keringat di malam hari, batuk berdarah, nyeri dada, dan lemah. Jenis batuk juga bisa berdahak yang berlangsung selama lebih dari 21 hari.
Saat tubuh kita sehat, sistem kekebalan tubuh dapat memberantas basil TB yang masuk ke dalam tubuh. Tapi, sistem kekebalan tubuh juga terkadang bisa gagal melindungi kita.
Basil TB yang gagal diberantas sepenuhnya bisa bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB. Kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis laten. Sementara basil TB yang sudah berkembang, merusak jaringan paru-paru, dan menimbulkan gejala dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif.
Penyebab dan Faktor Risiko Tuberkulosis
Penyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Basil tersebut menyebar di udara melalui semburan titik-titik air liur dari batuk pengidap TB aktif.
Terdapat sejumlah orang yang memiliki risiko penularan TB yang lebih tinggi. Kelompok-kelompok tersebut meliputi:
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, diabetes, atau orang yang sedang menjalani kemoterapi.
  • Orang yang mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi.
  • Perokok.
  • Pecandu narkoba.
  • Orang yang sering berhubungan dengan pengidap TB aktif, misalnya petugas medis atau keluarga pengidap.
Proses Diagnosis Tuberkulosis
Tuberkulosis termasuk penyakit yang sulit untuk terdeteksi. Dokter biasanya menggunakan beberapa cara untuk mendiagnosis penyakit ini, antara lain:
  • Rontgen dada.
  • Tes Mantoux.
  • Tes darah.
  • Tes dahak.
Pengobatan dan Pencegahan Tuberkulosis
Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan jika diobati dengan benar. Langkah pengobatan yang dibutuhkan adalah dengan mengonsumsi beberapa jenis antibiotik dalam jangka waktu tertentu.
Sementara langkah utama untuk mencegah TB adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan.
Risiko Komplikasi Tuberkulosis
Apabila tidak diobati, bakteri TB dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan berpotensi mengancam jiwa pengidap. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah:
  • Nyeri tulang punggung.
  • Meningitis.
  • Kerusakan sendi.
  • Gangguan hati, ginjal, atau jantung.

sumber:https://www.alodokter.com/tuberkulosis

pneumonia



pneumonia

Image result for pengertian pneumonia


Bacterial pneumonia, atau juga bisa disebut sebagai bakteri pneumonia adalah infeksi paru-paru yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri masuk ke dalam paru-paru lewat pernapasan atau darah. Biasanya bakteri pneumonia bersifat ringan, namun pada beberapa kasus dapat menjadi fatal.
Pneumonia ini dapat membuat tubuh kehilangan oksigen untuk masuk ke dalam darah. Sehingga nantinya kondisi ini akan menyebabkan sel-sel organ tubuh lain tidak berfungsi dengan baik karena kekurangan oksigen. Tingkat keparahan pneumonia Anda bergantung pada:
  • Seberapa banyak dan kuatnya bakteri yang masuk
  • Seberapa cepat Anda didiagnosis dan diobati
  • Usia Anda terkena kondisi ini
  • Kondisi kesehatan secara keseluruhan
  • Jika Anda memiliki kondisi atau penyakit lain yang menyebabkan komplikasi

Seberapa seringkah bakteri pneumonia terjadi?

Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri ini, adalah penyakit yang sangat umum dan dapat terjadi pada siapapun. Orang-orang yang tinggal di area-area yang terkontaminasi atau memiliki gangguan sistem imun biasanya memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena pneumonia. Anda dapat mengurangi faktor risiko terkena penyakit ini. Selalu konsultasikan kepada dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari bakteri pneumonia?

Gejala-gejala umum dari bakteri pneumonia adalah nyeri dada, menggigil, atau kebingungan, batuk, demam, sakit kepala, atau nyeri otot.
Pada beberapa kasus, penyakit dapat muncul dengan beberapa gejala lain, termasuk:
  • Nyeri saat bernapas
  • Dahak kuning atau hijau (lebih dari biasanya dan terkadang berdarah)
  • Kesulitan bernapas
  • Keringat
  • Letih
Pasien dengan pneumonia yang parah umumnya kesulitan bernapas, memiliki tekanan darah yang rendah, suhu tubuh lebih dari 39°C dan atau kebingungan.
Mungkin ada gejala-gejala yang tidak disebutkan di atas. Apabila Anda mempunyai kekhawatiran mengenai suatu gejala, konsultasikanlah pada dokter Anda.

Kapan saya harus menemui dokter?

Kondisi ini seringnya akan membahayakan kesehatan selurh tubuh bila parah. Hubungi dokter Anda secepatnya apabila muncul gejala-gejala berikut:
  • Kesulitan bernapas
  • Nyeri dada
  • Demam lebih dari 39°C
  • Batuk yang sering,
Orang-orang di bawah ini harus menemui dokter secepatnya apabila mengidap pneumonia yang disebabkan oleh bakteri:
  • Anak-anak di bawah 2 tahun
  • Orang dewasa di atas 65 tahun
  • Orang-orang dengan sistem imun yang lemah
  • Pasien yang menjalani kemoterapi atau mengonsumsi obat-obatan yang menghambat sistem imun

Penyebab

Apa yang menyebabkan bakteri pneumonia?

Kondisi pneumonia ini terjadi saat bakteri melewati mekanisme pertahanan tubuh dan masuk ke paru-paru, menyebabkan radang. Bakteri-bakteri yang menyebabkan bakteri pneumonia adalah Streptococcus sp., Mycoplasma sp., Staphylococcus sp., Haemophillus sp., dan Legionella sp..

Faktor-faktor risiko

Apa saja yang meningkatkan faktor-faktor risiko Anda terkena bakteri pneumonia?

Semua orang dapat terkena pneumonia. Namun, ada dua kelompok usia yang memiliki risiko paling tinggi:
  • Bayi dan anak-anak di bawah usia 2 tahun, karena sistem imunnya masih dalam tahap perkembangan
  • Dewasa di atas 65 tahun
Risiko lain termasuk:
  • Merokok memengaruhi aktivitas paru-paru dan merusak sistem imun alami tubuh.
  • Beberapa penyakit kronis seperti asma, dan penyakit obstruktif paru paru kronis, dan penyakit jantung.
  • Sistem imun lemah karena HIV/AIDS, transplantasi organ, kemoterapi kanker, atau penggunaan steroid dalam jangka waktu yang lama.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan untuk bakteri pneumonia?

Pengobatan pneumonia ini  umum adalah dengan antibiotik. Pasien dengan penyakit ringan akan diminta mengonsumsi antibiotik dan merasa lebih baik setelah 2-3 hari. Banyak pasien dapat melanjutkan setelah 7-10 hari.
Apabila penyakit menjadi lebih parah, pasien harus dirawat inap dan diberi antibiotik lewat infus.
Mereka juga memerlukan oksigen untuk membersihkan lendir. Sebagai tambahan, pasien juga mungkin memerlukan cuci darah dan pengobatan di ICU.
Apa saja tes yang umum dilakukan untuk bakteri pneumonia?
Kondisi pneumonia ini sering sulit didiagnosis karena gejalanya sangat mirip dengan flu. Beberapa metode diagnostik umum yang dapat digunakan dokter termasuk:
  • Riwayat medis: dokter akan bertanya mengenai tanda-tanda dan gejala, kapan dan bagaimana terjadinya.
  • Pemeriksaan fisik: dokter akan mengecek aktivitas paru-paru dengan stetoskop. Apabila Anda memiliki pneumonia, paru-paru akan mengeluarkan suara-suara tertentu saat Anda menarik napas
Apabila Anda berpikir bahwa Anda mengidap pneumonia, dokter mungkin akan merujuk ke rontgen untuk diagnosis yang akurat. Kemudian dokter akan melakukan tes darah atau air liur untuk mencari tahu bakteri penyebab pneumonia.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi Bacterial pneumonia?

Gaya hidup berikut dapat membantu Anda mengatasi Bacterial pneumonia:
  • Tanya dokter di mana Anda dapat membeli obat-obatan. Anda juga harus memberitahu dokter apabila Anda sedang hamil atau sedang menjalani pengobatan penyakit lain
  • Hubungi dokter apabila kondisi menjadi lebih parah atau tidak membaik dalam 2-3 hari
  • Rajin mencuci tangan adalah cara terbaik untuk menghentikan penyebaran infeksi.
  • Konsumsi obat-obatan sesuai resep. Habiskan semua antibiotik
  • Gunakan paracetamol atau aspirin untuk meredakan demam dan nyeri (bukan untuk anak-anak)
  • Perbanyak minum cairan (enam hingga delapan gelas per hari) untuk menghindari dehidrasi
  • Hirup udara segar. Anda dapat membeli bermacam-macam nebulizer di apotek atau diskusikan ke dokter apabila hunian dan tempat kerja Anda terlalu kering
  • Hubungi dokter apabila mengalami demam, air liur hijau atau kuning, dyspnea, nyeri dada atau tipe kulit gelap, bibir dan kuku pucat
  • Hindari area dengan polusi udara dan asap rokok, khususnya apabila Anda memiliki masalah paru-paru
sumber:https://hellosehat.com/penyakit/pneumonia-bakteri/

Faringitis

Faringitis (bahasa Latinpharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau hulu kerongkongan (pharynx). Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok.
Radang ini bisa disebabkan oleh virus atau bakteri, disebabkan daya tahan yang lemah. Faringitis biasanya disebabkan oleh bakteri streptococcus. Pengobatan dengan antibiotika hanya efektif apabila karena terkena bakteri. Kadangkala makan makanan yang sehat dengan buah-buahan yang banyak, disertai dengan vitamin bisa menolong.
Gejala radang tenggorokan seringkali merupakan pratanda penyakit flu atau pilek.
Terdapat dua jenis radang tenggorok yaitu akut dan kronis:
  • Faringitis akut, radang tenggorok yang masih baru, dengan gejala nyeri tenggorok dan kadang disertai demam dan batuk.
  • Faringitis kronis, radang tenggorok yang sudah berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma terasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorok.
Penyakit faringistis umumnya dapat pulih dalam waktu 3 hingga 7 hari. Penanganan dapat dilakukan melalui pengobatan mandiri di rumah atau pemberian obat dari dokter.

Gejala Faringitis

Beberapa gejala yang dapat muncul saat seseorang menderita faringitis adalah:
  • Nyeri otot.
  • Tenggorokan bengkak.
  • Batuk.
  • Badan terasa lelah.
  • Demam.
  • Pusing.
  • Mual.
  • Susah menelan.
  • Selera makan berkurang.
  • Bersin.
  • Pilek.

Penyebab Faringitis

Faringitis atau radang tenggorokan dapat disebabkan oleh beberapa hal. Dua di antaranya adalah virus dan bakteri. Beberapa jenis virus yang memicu faringtis adalah virus gondongan (mumps), virus Epstein-Barr (monocleosis), virus parainfluenza, serta virus herpangina. Sedangkan jenis bakteri yang dapat menyebabkan faringitis adalah bakteri grup A beta-hemolytic streptococcus. Bakteri ini biasanya memicu sakit tenggorokan (strep throat). Bakteri lainnya adalah bakteri penyebab infeksi menular seksual, seperti gonore dan klamidia.
Selain itu, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita faringitis, di antaranya adalah:
  • Sering menderita flu atau pilek.
  • Sering mengalami infeksi sinus.
  • Menderita alergi.
  • Sering terpapar asap rokok dalam tempat tertutup (perokok pasif).

sumber:https://id.wikipedia.org/wiki/Faringitis
sumber:https://www.alodokter.com/faringitis

tonsilitis

Radang amandel adalah peradangan yang terjadi pada amandel atau tonsil. Kondisi yang dinamakan juga dengan tonsilitis atau tonsilofaringitis ini sebagian besar dialami oleh anak-anak.
Amandel atau tonsil merupakan dua kelenjar kecil yang terdapat di dalam tenggorokan. Organ ini berfungsi sebagai pencegah infeksi, terutama pada anak-anak. Seiring  dengan perkembangan umur, sistem kekebalan tubuh mereka makin kuat dan perlahan-lahan tugas tonsil sebagai penangkal infeksi mulai tergantikan. Ketika peran tonsil sudah tidak dibutuhkan lagi, kedua kelenjar ini kemudian berangsur-angsur menyusut.
radang amandel atau tonsilitis pada umumnya adalah virus dan selebihnya disebabkan oleh bakteri. Mereka yang menderita tonsilitis akan mengalami sakit kepala, demam, nyeri tenggorokan saat menelan, sakit telinga, dan batuk. Gejala biasanya akan pulih dalam tiga hingga empat hari.
Meski sebagian besar kasus tonsilitis tidak tergolong serius, namun tetap disarankan untuk menemui dokter jika Anda atau anak Anda mengalami gejala yang berlangsung lebih dari empat hari dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan atau gejala menjadi makin parah yang membuat Anda sama sekali tidak bisa makan atau bahkan kesulitan bernapas.

Diagnosis Radang Amandel

Dalam mendiagnosis tonsilitis, dokter akan memulai dengan pemeriksaan tenggorokan, sekaligus mengajukan pertanyaan perihal gejala-gejala yang Anda rasakan.
Jika tonsilitis disebabkan oleh infeksi bakteri, biasanya gejala dapat berupa pembengkakan kelenjar getah bening di bagian tenggorokan, munculnya bintik-bintik nanah di sekitar amandel, dan/atau demam. Sedangkan jika radang amandel disebabkan oleh infeksi virus, gejala-gejala yang muncul dinilai lebih ringan dari infeksi bakteri, dan sering disertai gejala batuk dan pilek.
Tes lebih lanjut  di laboratorium, seperti tes darah, biasanya diperlukan dokter untuk memastikan apakah pasien juga menderita kondisi lain, contohnya demam kelenjar.

Pengobatan dan Pencegahan Radang Amandel

Sebagian besar kasus tonsilitis akan sembuh dalam waktu satu minggu. Tidak ada obat khusus untuk menangani tonsilitis. Obat biasanya diberikan untuk meringankan gejala, misalnya ibuprofen atau parasetamol sebagai pereda rasa sakit. Jika tonsilitis disebabkan oleh bakteri, maka antibiotik bisa digunakan. Selain dengan obat, pemulihan bisa ditunjang dengan istirahat yang cukup dan minum banyak cairan.
Tonsilitis dapat dicegah penyebarannya dengan selalu mencuci tangan sebelum makan dan setelah dari toilet, menggunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung saat batuk atau pilek, dan memakai masker saat berada di tempat umum.

cara mencegah terjadinya tonsilitis
1. Menggunakan masker
Jadi tonsil yang menginfeksi atau menyebabkan radang  pada tubuh di sebabkan oleh kuman yang masuk. Kuman ini bisa berupa bakteri dan virus. Maka tentu saja bisa menular pada orang lain. Untuk melakukan pencegahannya adalah dengan menggunakan masker ketika anda berada di lingkungan orang yang sakit. Tujuannya untuk menghindari dari tertularnya penyakit
2. Hindari penularan berasal dari udara
Tonsil atau peradangan yang terletak di bagian tonsil merupakan suatu penyakit yang di sebabkan oleh kuman. Baik itu berupa virus atau bakteri. Penularan yang di lakukan bisa melalui udara terbuka. Sebaiknya anda menghindari pasien tonsilitis saat ia mulai batuk – batuk dan bersin. karena udara adalah penghantar yang baik menularkan penyakit.
  1.  selalu mencuci tangan
Untuk menghindari terkena tonsilitis, sebaiknya anda semakin rajin mencuci tangan. Tujuannya adalah agar kuman – kuman yang ada di tangan bisa mati menggunakan anti septik yang berasal dari sabun. Terutama setelah kita batuk dan bersin, biasanya di tutup dengan tangan. Kedua aktivitas di atas adalah cara tubuh untuk melepaskan kuman. Maka sebaiknya mencuci tangan setelah batuk dan bersin.Ada  cara mencuci tangan yang benar
4. Gunakan alat sendok yang bersih
Selalu gunakanlah alat makan yang bersih. Terutama pada sendok, garpu, dan juga piring. Karena alat alat makan ini adalah tempat makanan sebelum masuk ke dalam tubuh. Jika kotor atau di letakkan di tempat yang kurang bersih, di khawatirkan membawa beberapa kuman jahat yang bisa menginfeksi tubuh.
5. Jangan gunakan peralatan yang sama dengan penderita
Jika anda khawatir tertular dengan penderita tonsilitis, sebaiknya anda menggunakan peralatan yang berbeda dengan penderita. Misal bedakanlah penggunaan alat makan, alat mandi, dan lain sebagainya pribadi. Sebab bekas alat yang di gunakan penderita di khawatirkan membawa virus yang bisa menularkan anda terkena radang tonsilitis.
6. Tidak mencium pasangan, jika ia sedang sakit
Jika pasien yang menderita tonsilitis adalah pasangan anda, maka tahan hasrat seksual anda. Misal untuk tidak mencium pasangan sampai ia benar – benar sembuh. Karena virus yang menyebabkan pasien terkena tonsilitis bisa juga menginfeksi tubuh anda. Melalui ciuman tersebut virus akan menular pada anda. Untuk itu tahan hasrat seksualnya.
7.Jangan merokok
Rokok merupakan aktivitas yang kurang baik jika di lakukan. Rokok membawa banyak dampak buruk untuk kesehatan. Aktivitas merokok ini menggunakan mulut untuk menghisap dan hidung untuk merasakan. Tentu saja rokok ini bisa menyebabkan masalah tonsilitis. Karena dapat mengiritasi bagian tenggorokan anda.
8. Konsumsi banyak air putih
Untuk menjaga kesehtaan tonsil, bisa di lakukan beberapa cara. Salah satunya dengan mengkonsumsi air putih banyak. Sebab air putih ini sangat baik untuk tubuh. Selain tidak memiliki rasa, bau, dan juga pengawet, air putih merupakan minuman yang kaya akan mineral. Sehingga bisa membantu membuang racun yang ada dalam tubuh
9. Selalu menjaga kebersihan
Kemudian, pastikan anda selalu menjaga kebersihan. Baik itu kebersihan diri maupun lingkungan. Ganti spresi, sarung bantal dan guling dalam waktu 2 minggu sekali. Ganti pula handuk yang anda pakai satu minggu sekali. Tujuannya agar kuman yang bersarang tidaklah banyak.
sumber:https://www.alodokter.com/radang-amandel
sumber:https://halosehat.com/penyakit/amandel/cara-pencegahan-tonsilitis